Wirausaha 1-2-3

Bisnis Itu Mudah Asal Mau Melangkah

Wirausaha Muda Mandiri terus dikembangkan

November 19th, 2009 by admin

SURABAYA (bisnis.com): PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menganggarkan dana CSR senilai Rp63,6 miliar atau sekitar 40% dari total anggaran program bina lingkungan sebesar Rp159 triliun untuk optimalisasi pengembangan Wirausaha Muda Mandiri (WMM).

Nila Mayta Dwi Rihandjani, Assistant Vice President Micro Business Group Bank Mandiri,� mengatakan besaran anggaran CSR tersebut setiap tahun bisa berubah mengikuti perkembangan keuntungan dari BUMN bersangkutan.

Nilai margin Mandiri tahun lalu mencapai sekitar Rp5,4 triliun. Dari keuntungan tersebut sekitar Rp212 miliar disisihkan untuk program CSR 2009 yang salah satu di dalamnya program pengembangan bina lingkungan.

“Kami memang akan fokus dan terus mengoptimalkan program wirausaha muda madiri sebagai salah satu program penting dari CSR tersebut,” ujar Nila di sela-sela penjurian finaliasai WMM dari Jawa Timur di Surabaya.

Dana itu juga untuk membiayai kompetisi dari mulai tingkat wilayah kerja Mandiri hingga ke tingkat nasional. Dana tersebut juga digunakan untuk mendorong WMM di dalam memajukan usahanya.

“Jadi bantuan Mandiri ini tidak semata-mata hanya terfokus pada pemberian modal tetapi juga beberapa persoalan yang sekiranya dapat menunjang kelangsungan dari usaha para kawula muda ini seperti pameran atau penambahan skil lainnya,” katanya.

Setidaknya, lanjut dia, program seperti ini akan dapat memacu Bank Mandiri menggenjot jumlah nasabah baru. Pasalnya hampir seluruh pesertanya merupakan pelaku usaha di sektor mikro dan umumnya dalam taraf baru memulai. (tw)

Category: Info Wirausaha | No Comments »

Pengusaha jadi lokomotif OVOP

November 19th, 2009 by admin

Identifikasi potensi & kelangkaan wirausaha masih jadi kendala

DENPASAR: Pemerintah menempatkan pengusaha sebagai lokomotif pengembangan satu produk unggulan satu daerah (one village one product-OVOP), sementara itu problem identifikasi potensi daerah dan kelangkaan wirausaha di perdesaan masih menjadi kendala program itu.

Wakil Menteri Perindustrian Alex Retra Ubun mengungkapkan pemerintah terus mendorong program revitalisasi OVOP untuk memacu kemampuan suatu daerah dengan produk unggulannya menembus pasar ekspor.

“Untuk itu perlu dibangun kesadaran untuk peduli terhadap perkembangan komunitas, serta diperlukan adanya sosok tokoh dalam komunitas itu,” ujar Alex membacakan sambutan Menteri Perindustrian M.S. Hidayat pada acara seminar internasional OVOP the Best Way for Sustainable Regional Economy, Sabtu.

Acara seminar yang dibuka oleh Wappres Budiono tersebut dihadiri oleh Menteri Negara Koperasi dan UKM Sjarifuddin Hasan, President of Oita OVOP International Exchange Promotion Committee Morihiko Hiramatsu, dan ratusan peserta dari 14 negara.

Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah menambahkan sosok tokoh dalam komunitas itu bukan lagi pemerintah yang berdiri di depan, melainkan para pengusaha setempat yang menjadi motor penggeraknya.

“Bukan lagi pemerintah yang menetapkan, produk apa yang menjadi unggulan, melainkan harus dari pengusaha setempat, apa usulannya. Mereka yang paling tahu potensi lokal, dan lebih memahami dunia bisnis,” ujarnya menjelaskan.

Adapun peran pemerintah, kata Fauzi, adalah memfasilitasi mereka agar skala usahanya berkembang, seperti membantu mencarikan sumber permodalan, teknologi dan inovasi produk, hingga perluasan jaringan pasar.

Sementara itu, Menteri Negara Koperasi dan UKM Sjarifuddin Hassan mengungkapkan setiap daerah memiliki potensi yang bisa dikembangkan menjadi produk unggulan (competitive advantage) di pasar dunia.

Bagaimana membuat produk itu unggul? Menteri mengatakan harus berkualitas produknya, desain dan kemasannya bagus, dan didukung oleh jaringan distribusi dan pemasaran yang bagus. “Kami akan membantu sehingga lahir produk unggulan, seperti kopi luwak Bali,” kata Sjarifuddin.

Penelitian mendalam

Alex mengatakan, hal prioritas adalah identifikasi potensi suatu produk yang bisa dikembangkan menjadi unggulan satu daerah. “Mungkin ada lima produk yang dinilai unggul, tetapi itu harus fokus pada satu produk saja, mana yang paling bagus dikembangkan. Ini tidak mudah.”

Dalam sambutannya, Wappres Budiono mengatakan pengembangan OVOP harus dilakukan dengan penelitian yang mendalam mengenai produk apa yang cocok untuk satu desa. “Targetnya juga harus jelas.”

Menurut dia, produk usaha kecil dan menengah banyak berkualitas, hanya belum banyak memiliki jaringan dengan pasar yang lebih besar, termasuk ke luar negeri. Keberhasilan produk UKM juga mensyaratkan sinergi antara teknologi, disain, dan pemasaran. “Itu satu paket,” kata Wapres seusai membuka seminar.

Wapres Boediono menilai Indonesia berpotensi untuk menerapkan OVOP karena kaya akan sumber daya alam dan budayanya. Kekayaan tersebut, ujarnya, akan memberikan potensi bagi pengusaha kelas menengah dan bawah yang terus tumbuh.

“Saya mulai tertarik dengan OVOP, saya akan berdialog dengan para menteri, termasuk menteri perekonomian [untuk membicarakannya],”ujar Wapres saat ditanya wartawan dalam penerbangan kembali ke Jakarta.

Modul OVOP pertama kali diperkenalkan oleh Kadin Indonesia dan AWDI (Asosiasi Wirausaha Desa Indonesia) kepada Dirjen Industri Kecil dan Menengah Depperin pada Januari 2006, yang langsung diterima dan ditindaklanjuti dengan Kepmen No 78-M-IND/ Per/9/2007 tentang OVOP, dan Inpres No. 6/2007 tentang Paket Kebijakan Percepatan Pengembangan Sektor Riil dan Pemberdayaan UMKM.

Hanya saja, seperti terungkap dalam seminar, pengembangan potensi daerah melalui pendekatan OVOP masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari riset identitas daerah yang minim, tidak ada kebijakan untuk pengembangan identitas lokal, dan tidak adanya rencana induk pembangunan perdesaan.

Di samping itu, entrepreneurship di perdesaan sangat rendah, minim infrastruktur, birokrasi yang buruk, hingga masalah status legal serta reformasi agraria. (fatkhul.maskur@bisnis.co.id/john. oktaveri@bisnis.co.id)

Category: Info Wirausaha | No Comments »

Menjamurnya Waralaba tidak Tumbuhkan Wirausaha

November 19th, 2009 by admin

JAKARTA–MI: Seiring meningkatnya animo masyarakat untuk berinvestasi, bisnis waralaba nasional terus meningkat pesat. Namun sayangnya, meski perputaran dana (turn over) di bisnis ini bisa mencapai kisaran Rp83 triliun pada 2009 ini, tidak diimbangi dengan pertumbuhan wirausaha (entrepreneur) nasional.

“Penyebabnya adalah pembeli waralaba itu tidak terlibat langsung dalam operasional usaha. Semuanya diatur oleh pemilik merek dagang. Pembeli waralaba hanya mendapatkan keuntungan dari investasi. Akhirnya yang berkembang hanya pola lisensi. Hal ini tidak menumbuhkan iklim wirausaha,” ujar Ketua Tetap Bidang Waralaba dan Lisensi Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Amir Karamoy dalam pembukaan pameran waralaba dan lisensi Indonesia di Jakarta, Jumat (13/11).

Padahal sejatinya, imbuh Amir, bisnis waralaba dan lisensi yang lahir dari proses kreatif produksi  barang dan jasa harus mampu menyebarkan iklim kewirausahaan di masyarakat. “Kalau di negara lain, pemilik waralaba tidak terlalu mengatur operasional usaha setelah merek dagangnya dibeli. Ini menumbuhkan wirausaha masyarakat,” ujar Amir.

Apabila pola bisnis waralaba yang hanya memperjualbelikan lisensi ini terus berkembang, hal ini justru menimbulkan potensi monopoli. “Contohnya jaringan toko swalayan yang hanya menjual lisensi. Masyarakat antusias membeli lisensi, sehingga jaringan semakin luas, namun ujungnya hanya memperkuat posisi si pemilih waralaba karena memiliki pasar yang lebih luas,” papar Amir.

Karena itu, harus ada aturan yang ketat terkait perkembangan bisnis waralaba ini. “Memang ada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 42 Tahun 2007 yang mengatur bisnis waralaba. Namun aturan ini tidak mengatur sistem operasional maupun komposisi kepemilikan. Akibatnya banyak waralaba asing yang sebenarnya hanya dimiliki oleh satu pemilik saja,” ujar Amir.

Bahkan, dari 803 usaha waralaba yang ada di Indonesia saat ini, baru 5% yang terdaftar di Departemen Perdagangan. “Bentuk usaha semacam business opportunity seperti sistem distribusi, agensi, kerjasama usaha dan dealership belum ada aturannya. Padahal sektor ini yang justru tengah berkembang di Indonesia,” ujar Amir.

Saat ini komposisi pemilik waralaba asing dan lokal adalah 30:70. Sementara perputaran dana hingga Rp83 triliun tahun ini masih berpeluang tumbuh 10% di 2010 karena masih terus munculnya pemilik waralaba lokal dan asing yang menawarkan produk dan jasanya. Sektor ini mampu menyerap tenaga kerja hingga 600 ribu orang di 32 ribu gerai (outlet) di seluruh Indonesia.

“Namun kita tidak memungkiri banyak juga usaha waralaba yang kolaps. Salah satunya akibat aturan yang memberi hak edar waralaba setelah pemiliknya membuka usaha selama 5 tahun. Ini terlalu cepat, harusnya minimal 10 tahun untuk memastikan tingkat durabilitas usahanya teruji,” ujar Amir.

Dalam pameran yang berlangsung hingga 15 November 2009 ini menghadirkan 134 franchisor barang dan jasa lokal dan asing ini, harga rata-rata lisensinya antara Rp2,5 juta hingga Rp2 miliar.

Dari peserta yang ada, franchisor di sektor bisnis makanan dan minuman masih mendominasi dengan 40%, sektor ritel dan pendidikan mencapai 15% dan sisanya beragam jenis usaha dari jasa transportasi hingga toko obat.

“Dari pengalaman penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya, minimal 40% dari peserta mengaku mendapat kontrak untuk pembukaan cabang baru. Kami berharap tahun ini bisa meningkat hingga 50% dan dikunjungi 150 ribu pengunjung,” ujar Project Manager PT Panorama Convex Indah, penyelenggara pameran ini. Acara ini juga difasilitasi oleh Standard Chartered Bank Indonesia yang berperan sebagai penyedia kredit bagi peminat usaha franchise ini. (Jaz/OL-03)

Category: Info Wirausaha | No Comments »

British Council rancang skema investasi wirausaha sosial

November 19th, 2009 by admin

JAKARTA (bisnis.com): British Council berupaya merancang skema investasi Social Entreprise Investment Fund, dengan anggaran hampir 250.000 Poundsterling hingga 2 tahun ke depan, untuk mendorong UKM yang sukses membantu melahirkan wirausahawan baru di komunitasnya.

Proyek ini secara khusus membantu usaha kecil dan menengah di bidang kreatif, lingkungan hidup, dan sosial mendobrak kebuntuan seputar permodalan, ketrampilan berjejaring, perencanaan bisnis, dan inovasi.

Walaupun saat ini Indonesia memiliki 51 juta UKM, sebagian besar (99%) adalah usaha berskala mikro yang berpenghasilan rendah. Ironisnya, UKM yang lebih inovatif seringkali kesulitan mendapatkan modal untuk berkembang.

Lembaga keuangan acapkali melihat inovasi sebagai risiko padahal kewirausahawanan di bidang kreatif, lingkungan hidup, dan sosial berpotensial menghasilkan PDB setidaknya US$20 juta setiap tahun.

“Lebih mudah cari pinjaman untuk jualan tempe di pasar daripada untuk buat film,” tutur sineas Sakti Parantean, yang karya-karyanya disiarkan Al Jazeera dan MTV, seperti dikutip siaran pers British Counsil.

Kewirausahawanan berbasis komunitas sudah dapat ditemukan di Indonesia walaupun belum menjadi model bisnis yang populer ataupun benar-benar dipahami oleh sebagian besar orang.

Inggris yang merupakan pelopor gerakan itu memiliki 55.000 bisnis model semacam ini. Omzet wirausaha berbasis komunitas Inggris mencapai US$50 juta per tahun dan mempekerjakan lebih dari 1,2 juta orang pada 2008

Seorang wirausahawan komunitas memadukan ketrampilan bisnis, kepedulian terhadap masalah di komunitasnya, dan kreativitas memecahkan persoalan lingkungan dan sosial melalui bisnis yang berbasis pada pemberdayaan komunitasnya.

Bila bisnis biasa hanya memperhitungkan keberhasilan finansial (return-on-investment), wirausahawan sosial juga menghitung keuntungan sosial dan lingkungan (social/environmental ROI).

British Council aktif di Indonesia sejak 1948. “Kami bekerja dalam kemitraan untuk membangun dan mengantarkan program yang saling menguntungkan dalam bidang pendidikan, proyek pengembangan bahasa Inggris, pemberdayaan sosial, industri kreatif, dan ketahanan iklim,” ungkap Eka Wahyuni, Media Relations Officer British Council. (mfm)

Category: Info Wirausaha | No Comments »

WIRAUSAHA: Bisnis Minimarket Masih Berpeluang

November 19th, 2009 by admin

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Menyikapi perkembangan dunia usaha dan tingginya minat usaha minimarket, Pusat Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (P3SDM) Kumajaya memberikan pelatihan gratis minimarket untuk calon wirausaha.

Pelatihan yang diberikan secara gratis ini terbuka untuk umum dan dibimbing oleh instruktur dari alumni universitas dan praktisi bisnis yang berpengalaman.

Direktur Utama Kumajaya Management Isnarbangu Surachmat, Rabu (18-11), dalam rilisnya mengatakan di tengah keterpurukan ekonomi global, masih ada peluang usaha yang menjanjikan, salah satunya di bidang minimarket. “Ancaman raksasa supermarket mancanegara dan minimarket mematikan pasar tradisional dan toko-toko kecil,” kata Isnarbangu.

Menurut Isnarbangu, memulai usaha atau menjadi pengusaha tidak sulit. Hanya perlu keberanian. Keberhasilan dalam usaha hanya memerlukan modal dan keyakinan.

Materi pelatihan angkatan 2009 ini bertajuk Minimarket khusus stationery, sport, dan musik berprospek meraup keuntungan besar. Peserta tidak hanya diberi pelatihan dan diberikan trik bisnis minimarket biasa, juga bimbingan sampai benar-benar berhasil dalam membuka usaha. Bahkan peserta juga diberi pelatihan berupa bimbingan memperoleh pinjaman dari perbankan.

Pendaftaran peserta dimulai November dan berakhir hingga 15 Desember 2009. Peserta hanya dibatasi 45 orang. “Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi Sekterariat P3SDM Kusumajaya, dengan alamat Graha UFIA, Depok, Jawa Barat,” kata dia. n CR-1/E-1

Category: Info Wirausaha | No Comments »

Kompetisi Wirausaha Mandiri di Yogyakarta

November 19th, 2009 by admin

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Setelah melalui uji pemaparan di hadapan tim juri, hasil penjurian Wirausaha Muda Mandiri setiap kategori dipilih pemenang pertama untuk mewakili kompetisi WMM di tingkat nasional.

Senin (2/11) kemarin, penjurian dilakukan di Kota Yogyakarta. Sebagian besar, bisnis makanan dijadikan andalan bagi peserta. Namun, ada pula bisnis teknologi informasi, konsultan arstitektur, alat musik, laundry, dan pembibitan.

Pemenang alumni untuk kategori industri dan jasa adalah Agung Nugroho sebagai pengusaha laundry Simply Fresh, kategori boga Akhlis Mukhidin (pengusaha siomay Kang Otong), dan kategori kreatif Arthur Sahadewa Widjaya (pengusaha berbasis komunitas: software developer dan security network).

Sedangkan pemenang mahasiswa kategori industri dan jasa adalah Tri Wahyudi (Khatulistiwa Tour and Travel), kategori boga Saiqa Ilham Akbar BS (Hotaru Japanese Resto), dan kategori kreatif Indra Haryadi (Dojo Hotspot Center).

Seluruh pemenang ini akan mewakili Kanwil Bank Mandiri untuk dikompetisikan di WMM tingkat nasional. Tardi menambahkan, peserta yang tidak lolos sebagai pemenang tetaplah difasilitasi oleh Mandiri, dengan membangun komunitas-komunitas muda yang didampingi oleh para pemenang WMM.

Tanggung jawab bersama itu ditumbuhkan untuk menciptakan wirausaha tangguh. Senior Vice President Regional VII Semarang Budi J Siahaan mengatakan, dampak secara langsung yang ingin dibidik dalam WMM adalah penumbuhan wirausaha muda.

Pemenangnya tentu akan didampingi dengan pelatihan-pelatihan dan memberikan testimoni dukungan Bank Mandiri sehingga pembiayaan usaha pun mendapat dukungan Bank Mandiri.

Category: Info Wirausaha | No Comments »

Pengusaha Warkop, Sahar Daeng Sija

November 13th, 2009 by admin

“Hidup Butuh Perjuangan” Pepatah itulah yang harus dipegang setiap insan manusia untuk menjalani kehidupan yang penuh liku dan tantangan.
 Berserah diri pada takdir dan nasib, bukanlah jalan terbaik untuk keluar dari permasalahan ekonomi yang saat ini mendera. Peluang usaha cukup terbuka lebar, tinggal bagaimana setiap insan manusia berjuang untuk menggapai hari esok yang cerah.
Rupanya, pegangan hidup itulah yang dipegang Sahar Daeng Sija, pria kelahiran Maros 1960 lalu, yang saat ini telah boleh dikatakan sebagai entrepreneur sukses, yang berasal dari keluarga ekonomi lemah disebuah desa terpencil. Tidak banyak yang tahu, kalau Sahar Daeng Sija, yang akrab disapa Daeng Sija, dulu bukanlah siapa-siapa, dia hanyalah anak dari seorang masyarakat biasa.
Sewaktu dirinya masih duduk dibangku Sekolah Dasar (SD) kelas V, dia telah ditinggal sang ayah tercinta. Saat ini, krisis ekonomi keluarganya semakin menjadi, maklum saat itu, ayahnyalah yang menjadi penopang ekonomi keluarga. Untuk bertahan hidup, dia bersama kaka dan ibunya tercinya, Hj Daeng Tarring, hijrah ke Makassar dan menumpang hidup disalah satu rumah keluarganya, Jalan Satando, Kecamatan Ujung Tanah Makassar.
Di Makassar, ibunya mencoba peruntungan dengan menjual jalangkote dan kue tradisional. Daeng Sija-lah yang tampil sebagai pahlawan dalam keluarganya. Daeng Sija, selalu menyempatkan waktu dalam setiap hari untuk menjajakan jalangkote dan kue buatan ibunya tercinta, dari lorong-ke lorong, tanpa mengenal rasa malu, tanpa mengenal teriknya panas mentari dan dinginnya hujan.
Waktu terus berjalan, Daeng Sija semakin bingung menentukan pilihan hidup. Untuk merubah nasib menjadi lebih baik, juga terasa sangat sulit baginya, modal untuk berusaha tak dia miliki, namun keyakinan, kesabaran dan keuletannya-lah yang membuat suami tercinta Rosmiati, perempuan kelahiran Jeneponto ini, terus bersemangat mencari akal dan peluang untuk merubah status keluarganya dari tidak ada menjadi ada.
Barulah pada tahun 1980, dia diajak bekerja disalah satu usaha warkop, dia bekerja dengan giat, sehingga dia dipercaya sebagai peracik kopi. Pada tahun 2003, dia akhirnya di panggil oleh salah satu pengusaha warkop yang berlokasi di Jalan Boulevard, dengan iming-iming gaji Rp1 Juta per bulan. “Saat itulah saya menerima tawaran, karena saya berniat mendirikan warkop sendiri, seluruh gaji saya tabung kala itu, untuk dijadikan modal,” katanya kepada Upeks.
Pada tahun 2005, impian Daeng Sija untuk membuka usaha sendiri tercapai. Lambat-laun, usaha warkop yang digelutinya kian tenar, karena racikan kopi dan tehnya yang khas. Bahkan hingga saat ini, Warkop Daeng Sija, telah menjadi trend di Kota Makassar bahkan hingga ke daerah-daerah di Sulsel.
Pada tahun 2007, Daeng Sija, kembali membuka cabang usaha warkop di sekitar Topaz dengan nama Warkop Daeng Sija, dan dikediamannya sendiri, yang dibeli dari hasil usaha, yang di Jalan Lobak Makassar. Pada tahun 2009, Jalan Lanto Daeng Pasewang, menjadi pangsa pasar bisnis warkopnya. “Saya rencana juga akan membuka usaha Warkop di Jalan Batu Putih Bundar, karena permintaan langganan,” jelasnya.
Dia juga mengaku, hingga saat ini ada beberapa warkop yang mengambil bahan dari dirinya, untuk mendapatkan hasil racikan kopi yang terbaik, Daeng Sija
juga mengaku banyak pengusaha yang memesan kopi hasil buatannya untuk para tamu dan relasi bisnis. “Semua saya jalani dengan niat yang tulus, dari hasil usaha saya, saya sudah bisa beli rumah dan menyekolakan anak di perguruan tinggi, saya yakin walaupun banyak warkop buka, tapi hasil racikan kopi dari saya bisa diuji tetap yang terbaik,” tutur Daeng Sija yang dikenal dengan kumis tebalnya ini. (lim/ade/E)
ujungpandangekspress.com

Category: Uncategorized | No Comments »

Sutrisno Bachir Bentuk Korwil Forum Bisnis KTI

November 13th, 2009 by admin

Makassar (ANTARA News) – Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) H. Soetrisno Bachir membentuk Koordinasi Wilayah (Korwil) Forum Bisnis Sejahtera Anggotaku (FBSA) di tujuh provinsi di kawasan timur Indonesia.

Temu usaha dan pembentukan Koperasi Sejahtera Anggotaku yang diselenggarakan di Makassar, Jumat, itu dirangkaikan dengan deklarasi dan pengukuhan pengurus FBSA yang berasal dari Sulawesi Selatan (Sulsel), Sulawesi Barat (Sulbar), Sulawesi Tenggara (Sultra), Maluku, Papua dan Papua Barat.

“Forum bisnis yang berbentuk usaha koperasi itu harus dikelola dengan sistem manajerial, bukan dengan pengelolaan koperasi biasa,” kata Sutrisno Bachir saat membuka temu usaha dengan sejumlah kader PAN dan sejumlah pengusaha di Makassar, Jumat.

Pembentukan korwil FBSA di daerah timur ini untuk menumbuhkan jiwa “entrepreneur” baru yang diharapkan dapat memperoleh dukungan dari sejumlah pengusaha-pengusaha besar yang ada di wilayah timur Indonesia.

“Harus ada kegiatan sosial dalam koperasi ini untuk membantu pengusaha-pengusaha kecil,” kata Sutrisno yang juga menjabat sebagai Pembina Koordinator Nasional (Kornas) FBSA.

Selain itu, pembentukan FBSA ini, kata dia, mampu mendukung pemerintahan SBY-Boediono yang selama ini dituding sejumlah pihak sebagai penggerak paham neo-liberalism.

Dia mengatakan, pembentukan FBSA harus melahirkan pengusaha- pengusaha baru yang bukan hanya berasal dari anggota PAN saja.

“Partai politik bukan hanya untuk menjadi oposisi selama lima tahun, melainkan dapat memberikan kontribusi untuk kesejahteraan rakyat,” katanya.

Dia mengharapkan dana awal sebesar Rp50 juta yang diberikan kepada masing-masing korwil FBSA diminta dapat dikembangkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan di wilayah timur Indonesia.

“Jangan hanya Sulawesi Selatan yang maju di kawasan timur. Papua juga harus bisa maju bersama dengan teman-teman yang ada di Sulawesi,” katanya sembari memberikan semangat bagi perwakilan Papua yang hadir dalam kegiatan temu usaha tersebut.

Rencananya pembentukan korwil selanjutnya akan dilakukan di Manado pada awal November 2009 untuk pembentukan tiga Korwil FBSA yaitu Sulawesi Utara (Sulut), Sulawesi Tengah (Sulteng) dan Maluku Utara (Malut). (*)

Category: Uncategorized | No Comments »

Mennegkop Gelontorkan KUR Rp 20 Triliun

November 13th, 2009 by admin

VIVAnews - Menteri Negara Koperasi dan UKM Kabinet Indonesia Bersatu II Syarief Hasan berencana melanjutkan skema kredit usaha rakyat (KUR) dalam program kerja 100 hari.

Ditemui sebelum rapat koordinasi menteri bidang ekonomi di kantor Menko Perekonomian, Syarief mengaku akan menggelontorkan Rp 20 triliun untuk program permodalan UMKM tersebut.

“Jadi, akan ada Rp 20 triliun untuk KUR pada 100 hari program kerja,” kata dia di kantor menko perekonomian, Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu 24 Oktober 2009.

Program KUR tersebut dinilai akan memberikan efek berantai (multiplier effect). Skema KUR akan menciptakan tenaga entrepreneur dan pelaku bisnis baru.

“Tak terkecuali, menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi pengangguran,” kata dia.

Category: Uncategorized | No Comments »

Dari RM Padang Ke Jalur Konstruksi

November 13th, 2009 by admin

Jarang ada pengusaha yang seperti Wilson Abdullah SE. Memiliki usaha yang berlatar belakang berbeda satu sama lain. Bahkan sama sekali tak ada hubungan antara usaha yang satu dengan yang lain. Namun, di tangannya semua usahanya sukses. Kini Ketua Kadin Tana Toraja dan Tator Utara itu melirik sektor lain, agrowisata kebun teh.
Wilson pertama kali terjun sebagai entrepreneur dimulai dengan membuka usaha Rumah Makan (RM) Padang. Usaha itu dipilihnya karena merupakan bisnis yang digeluti oleh keluarganya.
“Kalau bicara soal RM Padang, rata-rata keluarga. Bahkan yang pertama kali membuka RM Padang di Makassar itu juga termasuk keluarga kami,” ujar Wilson.
Pada dasarnya orang tuanya tidak murni sebagai seorang pengusaha Food & Baverage, malah berlatar belakang sebagai seorang pendidik sekaligus tokoh agama.
Keinginannya untuk membuka rumah makan juga karena didukung oleh pengalamannya bekerja di hotel.
“Setelah bekerja di dunia perhotelan, dengan modal pas-pasan pada tahun 1993 saya memilih untuk hijrah ke Tana Toraja ini dan membuka rumah makan,” ujarnya saat ditemui pekan lalu. Di daerah inilah akhirnya wilson menemui pujaan hatinya.
Bisnis yang dimulai dari nol itu ternyata sedikit demi sedikit tumbuh dan semakin besar. Namun tentunya untuk membuatnya semakin besar dibutuhkan tambahan modal. “saat itulah saya memperoleh kredit dari bank pertama kali senilai Rp50 juta,” tambahnya.
Memulai dari usaha rumah makan itulah, Wilson secara perlahan-lahan mulai membangun jaringan bisnisnya. Wilson mulai memasuki dunia bisnis yang belum pernah digelutinya, yakni bisnis kendaraan bermotor, mulai dari pemasarannya hingga after sales service. “Saya dulu dipercayakan menjadi agen motor merek Kaisar sekitar tahun 1997. Saya dipercaya untuk menjadi pemegang lisensi penjualan Kaisar di Makassar, Maros, Pangkep, Gowa, dan Toraja,” ujarnya.
Bisnis itu pun dijalani dengan sepenuh hati hingga akhirnya dia terlempar ke dunia konstruksi yang digelutinya hingga saat ini. Bahkan bukan hanya menjadi kontraktor saja, tetapi Wilson bahkan berhasil menduduki posisi Ketua Gabungan Pengusaha Konstruksi (Gapensi) di Tana Toraja. Proyek yang dikerjakannya memang diawali dari proyek-proyek kecil. Saat ini Wilson sudah dipercayakan untuk menggarap proyek-proyek pembangunan yang nilai mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah.
Menurutnya, perjalanannya membangun usaha yang berbeda-beda itu selain karena melihat peluang dan potensi, juga karena faktor keberanian dalam memulai usaha. “Saya dari masih kuliah memang memiliki jiwa bisnis, namun semuanya harus kita lakukan secara bertahap. Strep by step, tidak ada yang instan. Yang penting jangan malu,” ujarnya.
Semangat untuk berwirausaha itulah yang terus menerus mendorongnya untuk membuka jenis usaha baru. Sebab menurutnya bisnis apapun yang digeluti dengan sepenuh hati, maka akan bisa sukses. “Kuncinya itu cuma dua, yaitu bagaimana kemampuan kita berusaha dan kepercayaan pihak bank. Kalau bank sudah benar-benar mempercayai kita, kredit itu tidak akan sulit didapatkan. Saya pun dulunya hanya memperoleh kredit Rp50 juta dari Bank Sulsel, namun karena kepercayaan saya bisa terus menerus mendapatkan kredit hingga sekarang ini,” kuncinya. (aka)

Category: Uncategorized | No Comments »