Wirausaha 1-2-3

Bisnis Itu Mudah Asal Mau Melangkah

Archive for the 'Uncategorized' Category

Pengusaha Warkop, Sahar Daeng Sija

November 13th, 2009 by admin

“Hidup Butuh Perjuangan” Pepatah itulah yang harus dipegang setiap insan manusia untuk menjalani kehidupan yang penuh liku dan tantangan.
 Berserah diri pada takdir dan nasib, bukanlah jalan terbaik untuk keluar dari permasalahan ekonomi yang saat ini mendera. Peluang usaha cukup terbuka lebar, tinggal bagaimana setiap insan manusia berjuang untuk menggapai hari esok yang cerah.
Rupanya, pegangan hidup itulah yang dipegang Sahar Daeng Sija, pria kelahiran Maros 1960 lalu, yang saat ini telah boleh dikatakan sebagai entrepreneur sukses, yang berasal dari keluarga ekonomi lemah disebuah desa terpencil. Tidak banyak yang tahu, kalau Sahar Daeng Sija, yang akrab disapa Daeng Sija, dulu bukanlah siapa-siapa, dia hanyalah anak dari seorang masyarakat biasa.
Sewaktu dirinya masih duduk dibangku Sekolah Dasar (SD) kelas V, dia telah ditinggal sang ayah tercinta. Saat ini, krisis ekonomi keluarganya semakin menjadi, maklum saat itu, ayahnyalah yang menjadi penopang ekonomi keluarga. Untuk bertahan hidup, dia bersama kaka dan ibunya tercinya, Hj Daeng Tarring, hijrah ke Makassar dan menumpang hidup disalah satu rumah keluarganya, Jalan Satando, Kecamatan Ujung Tanah Makassar.
Di Makassar, ibunya mencoba peruntungan dengan menjual jalangkote dan kue tradisional. Daeng Sija-lah yang tampil sebagai pahlawan dalam keluarganya. Daeng Sija, selalu menyempatkan waktu dalam setiap hari untuk menjajakan jalangkote dan kue buatan ibunya tercinta, dari lorong-ke lorong, tanpa mengenal rasa malu, tanpa mengenal teriknya panas mentari dan dinginnya hujan.
Waktu terus berjalan, Daeng Sija semakin bingung menentukan pilihan hidup. Untuk merubah nasib menjadi lebih baik, juga terasa sangat sulit baginya, modal untuk berusaha tak dia miliki, namun keyakinan, kesabaran dan keuletannya-lah yang membuat suami tercinta Rosmiati, perempuan kelahiran Jeneponto ini, terus bersemangat mencari akal dan peluang untuk merubah status keluarganya dari tidak ada menjadi ada.
Barulah pada tahun 1980, dia diajak bekerja disalah satu usaha warkop, dia bekerja dengan giat, sehingga dia dipercaya sebagai peracik kopi. Pada tahun 2003, dia akhirnya di panggil oleh salah satu pengusaha warkop yang berlokasi di Jalan Boulevard, dengan iming-iming gaji Rp1 Juta per bulan. “Saat itulah saya menerima tawaran, karena saya berniat mendirikan warkop sendiri, seluruh gaji saya tabung kala itu, untuk dijadikan modal,” katanya kepada Upeks.
Pada tahun 2005, impian Daeng Sija untuk membuka usaha sendiri tercapai. Lambat-laun, usaha warkop yang digelutinya kian tenar, karena racikan kopi dan tehnya yang khas. Bahkan hingga saat ini, Warkop Daeng Sija, telah menjadi trend di Kota Makassar bahkan hingga ke daerah-daerah di Sulsel.
Pada tahun 2007, Daeng Sija, kembali membuka cabang usaha warkop di sekitar Topaz dengan nama Warkop Daeng Sija, dan dikediamannya sendiri, yang dibeli dari hasil usaha, yang di Jalan Lobak Makassar. Pada tahun 2009, Jalan Lanto Daeng Pasewang, menjadi pangsa pasar bisnis warkopnya. “Saya rencana juga akan membuka usaha Warkop di Jalan Batu Putih Bundar, karena permintaan langganan,” jelasnya.
Dia juga mengaku, hingga saat ini ada beberapa warkop yang mengambil bahan dari dirinya, untuk mendapatkan hasil racikan kopi yang terbaik, Daeng Sija
juga mengaku banyak pengusaha yang memesan kopi hasil buatannya untuk para tamu dan relasi bisnis. “Semua saya jalani dengan niat yang tulus, dari hasil usaha saya, saya sudah bisa beli rumah dan menyekolakan anak di perguruan tinggi, saya yakin walaupun banyak warkop buka, tapi hasil racikan kopi dari saya bisa diuji tetap yang terbaik,” tutur Daeng Sija yang dikenal dengan kumis tebalnya ini. (lim/ade/E)
ujungpandangekspress.com

Category: Uncategorized | No Comments »

Sutrisno Bachir Bentuk Korwil Forum Bisnis KTI

November 13th, 2009 by admin

Makassar (ANTARA News) – Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) H. Soetrisno Bachir membentuk Koordinasi Wilayah (Korwil) Forum Bisnis Sejahtera Anggotaku (FBSA) di tujuh provinsi di kawasan timur Indonesia.

Temu usaha dan pembentukan Koperasi Sejahtera Anggotaku yang diselenggarakan di Makassar, Jumat, itu dirangkaikan dengan deklarasi dan pengukuhan pengurus FBSA yang berasal dari Sulawesi Selatan (Sulsel), Sulawesi Barat (Sulbar), Sulawesi Tenggara (Sultra), Maluku, Papua dan Papua Barat.

“Forum bisnis yang berbentuk usaha koperasi itu harus dikelola dengan sistem manajerial, bukan dengan pengelolaan koperasi biasa,” kata Sutrisno Bachir saat membuka temu usaha dengan sejumlah kader PAN dan sejumlah pengusaha di Makassar, Jumat.

Pembentukan korwil FBSA di daerah timur ini untuk menumbuhkan jiwa “entrepreneur” baru yang diharapkan dapat memperoleh dukungan dari sejumlah pengusaha-pengusaha besar yang ada di wilayah timur Indonesia.

“Harus ada kegiatan sosial dalam koperasi ini untuk membantu pengusaha-pengusaha kecil,” kata Sutrisno yang juga menjabat sebagai Pembina Koordinator Nasional (Kornas) FBSA.

Selain itu, pembentukan FBSA ini, kata dia, mampu mendukung pemerintahan SBY-Boediono yang selama ini dituding sejumlah pihak sebagai penggerak paham neo-liberalism.

Dia mengatakan, pembentukan FBSA harus melahirkan pengusaha- pengusaha baru yang bukan hanya berasal dari anggota PAN saja.

“Partai politik bukan hanya untuk menjadi oposisi selama lima tahun, melainkan dapat memberikan kontribusi untuk kesejahteraan rakyat,” katanya.

Dia mengharapkan dana awal sebesar Rp50 juta yang diberikan kepada masing-masing korwil FBSA diminta dapat dikembangkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan di wilayah timur Indonesia.

“Jangan hanya Sulawesi Selatan yang maju di kawasan timur. Papua juga harus bisa maju bersama dengan teman-teman yang ada di Sulawesi,” katanya sembari memberikan semangat bagi perwakilan Papua yang hadir dalam kegiatan temu usaha tersebut.

Rencananya pembentukan korwil selanjutnya akan dilakukan di Manado pada awal November 2009 untuk pembentukan tiga Korwil FBSA yaitu Sulawesi Utara (Sulut), Sulawesi Tengah (Sulteng) dan Maluku Utara (Malut). (*)

Category: Uncategorized | No Comments »

Mennegkop Gelontorkan KUR Rp 20 Triliun

November 13th, 2009 by admin

VIVAnews - Menteri Negara Koperasi dan UKM Kabinet Indonesia Bersatu II Syarief Hasan berencana melanjutkan skema kredit usaha rakyat (KUR) dalam program kerja 100 hari.

Ditemui sebelum rapat koordinasi menteri bidang ekonomi di kantor Menko Perekonomian, Syarief mengaku akan menggelontorkan Rp 20 triliun untuk program permodalan UMKM tersebut.

“Jadi, akan ada Rp 20 triliun untuk KUR pada 100 hari program kerja,” kata dia di kantor menko perekonomian, Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu 24 Oktober 2009.

Program KUR tersebut dinilai akan memberikan efek berantai (multiplier effect). Skema KUR akan menciptakan tenaga entrepreneur dan pelaku bisnis baru.

“Tak terkecuali, menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi pengangguran,” kata dia.

Category: Uncategorized | No Comments »

Dari RM Padang Ke Jalur Konstruksi

November 13th, 2009 by admin

Jarang ada pengusaha yang seperti Wilson Abdullah SE. Memiliki usaha yang berlatar belakang berbeda satu sama lain. Bahkan sama sekali tak ada hubungan antara usaha yang satu dengan yang lain. Namun, di tangannya semua usahanya sukses. Kini Ketua Kadin Tana Toraja dan Tator Utara itu melirik sektor lain, agrowisata kebun teh.
Wilson pertama kali terjun sebagai entrepreneur dimulai dengan membuka usaha Rumah Makan (RM) Padang. Usaha itu dipilihnya karena merupakan bisnis yang digeluti oleh keluarganya.
“Kalau bicara soal RM Padang, rata-rata keluarga. Bahkan yang pertama kali membuka RM Padang di Makassar itu juga termasuk keluarga kami,” ujar Wilson.
Pada dasarnya orang tuanya tidak murni sebagai seorang pengusaha Food & Baverage, malah berlatar belakang sebagai seorang pendidik sekaligus tokoh agama.
Keinginannya untuk membuka rumah makan juga karena didukung oleh pengalamannya bekerja di hotel.
“Setelah bekerja di dunia perhotelan, dengan modal pas-pasan pada tahun 1993 saya memilih untuk hijrah ke Tana Toraja ini dan membuka rumah makan,” ujarnya saat ditemui pekan lalu. Di daerah inilah akhirnya wilson menemui pujaan hatinya.
Bisnis yang dimulai dari nol itu ternyata sedikit demi sedikit tumbuh dan semakin besar. Namun tentunya untuk membuatnya semakin besar dibutuhkan tambahan modal. “saat itulah saya memperoleh kredit dari bank pertama kali senilai Rp50 juta,” tambahnya.
Memulai dari usaha rumah makan itulah, Wilson secara perlahan-lahan mulai membangun jaringan bisnisnya. Wilson mulai memasuki dunia bisnis yang belum pernah digelutinya, yakni bisnis kendaraan bermotor, mulai dari pemasarannya hingga after sales service. “Saya dulu dipercayakan menjadi agen motor merek Kaisar sekitar tahun 1997. Saya dipercaya untuk menjadi pemegang lisensi penjualan Kaisar di Makassar, Maros, Pangkep, Gowa, dan Toraja,” ujarnya.
Bisnis itu pun dijalani dengan sepenuh hati hingga akhirnya dia terlempar ke dunia konstruksi yang digelutinya hingga saat ini. Bahkan bukan hanya menjadi kontraktor saja, tetapi Wilson bahkan berhasil menduduki posisi Ketua Gabungan Pengusaha Konstruksi (Gapensi) di Tana Toraja. Proyek yang dikerjakannya memang diawali dari proyek-proyek kecil. Saat ini Wilson sudah dipercayakan untuk menggarap proyek-proyek pembangunan yang nilai mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah.
Menurutnya, perjalanannya membangun usaha yang berbeda-beda itu selain karena melihat peluang dan potensi, juga karena faktor keberanian dalam memulai usaha. “Saya dari masih kuliah memang memiliki jiwa bisnis, namun semuanya harus kita lakukan secara bertahap. Strep by step, tidak ada yang instan. Yang penting jangan malu,” ujarnya.
Semangat untuk berwirausaha itulah yang terus menerus mendorongnya untuk membuka jenis usaha baru. Sebab menurutnya bisnis apapun yang digeluti dengan sepenuh hati, maka akan bisa sukses. “Kuncinya itu cuma dua, yaitu bagaimana kemampuan kita berusaha dan kepercayaan pihak bank. Kalau bank sudah benar-benar mempercayai kita, kredit itu tidak akan sulit didapatkan. Saya pun dulunya hanya memperoleh kredit Rp50 juta dari Bank Sulsel, namun karena kepercayaan saya bisa terus menerus mendapatkan kredit hingga sekarang ini,” kuncinya. (aka)

Category: Uncategorized | No Comments »

Mencari ‘model bisnis’ Indonesia

November 13th, 2009 by admin

Mengikuti National Summit yang dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemarin, pikiran saya melayang jauh.

Apakah forum yang dihadiri tokoh bisnis nasional dan eksekutif papan atas hingga para birokrat di daerah ini akan menghasilkan “model bisnis” Indonesia? Apalagi pidato SBY-panggilan untuk Yudhoyono-menyiratkan keyakinan yang kuat akan Indonesia masa depan.

Presiden pun menyinggung tiga kunci sukses, yakni kewirausahaan (entrepreneurship), pemberdayaan (empowering), dan kemitraan (partnership).

SBY yakin, kunci sukses itu akan membuka jalan bagi pertumbuhan ekonomi tinggi, menciptakan lapangan kerja lebih luas, dan mengurangi kemiskinan, yang dikenal sebagai strategi triple deck. Targetnya, pada 2014 pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 7%, tingkat pengangguran 5%-6%, tingkat kemiskinan 8%-10%.

Target itu akan dikejar melalui investasi yang tinggi, stabilitas politik dan keamanan, ketersediaan infrastruktur, kepastian hukum, penguatan kebijakan ekonomi, perbaikan peraturan daerah, dan kemudahan perizinan.

Dengan demikian, daerah akan tumbuh, perdagangan dalam negeri berkembang asalkan connectivity-istilah SBY untuk infrastruktur antarwilayah-berkembang.

Model bisnis

Saya sebenarnya penuh harap, Presiden menekankan pesan yang kuat dan direktif soal “paradigma kewirausahaan” di tubuh birokrasi pemerintah.

Apalagi, forum National Summit itu merupakan kesempatan emas, di mana berkumpul ratusan pengusaha, selain sekitar 400 bupati/wali kota dan 34 gubernur dari seluruh Indonesia.

Dengan demikian, pemerintah-bersama dunia usaha-dapat merumuskan ’sumber uang’ dari segala potensi yang dimiliki, sehingga benar-benar dapat memberikan kesejahteraan bagi rakyat.

Di China, misalnya, kita dengan mudah menebak “model bisnis” yang jelas. Beijing memfasilitasi dunia usaha dan perusahaan yang kebanyakan pelat merah (BUMN) untuk menghasilkan barang murah dan kompetitif. Beijing juga pintar mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan regulasi perdagangan internasional, kemudian mampu penetrasi ke pasar-pasar potensial di seluruh dunia. Hasilnya, China kini tidak hanya kaya manusia, tetapi juga menjadi ‘predator’ di pasar ekspor yang ditakuti dunia.

Saya jadi ingat cerita kolega dari Thailand, tentang pengalaman negeri itu lepas dari krisis ekonomi 10 tahun silam, ketika diperintah oleh Perdana Menteri Thaksin Sinawatra.

Satu hal, untuk membangun daerah-daerah tertinggal di Thailand, Thaksin mengumpulkan seluruh kepala daerah untuk diberikan pelatihan kewirausahaan dan mengubah paradigma pengambilan kebijakan dengan berorientasi bisnis layaknya entrepreneur.

PM Thaksin, yang tak sampai 5 tahun berkuasa, juga mengumpulkan para duta besar untuk bertindak seperti entrepreneur, menjual potensi Negeri Gajah Putih tersebut di negara tempat sang duta besar bertugas. Duta besar bukan sebagai alat diplomasi politik, melainkan ujung tombak diplomasi ekonomi dan bisnis.

Ada kisah nyata, di mana duta besar Thailand untuk Prancis ketika itu, langsung membawa sendiri sampel rambutan dari Bangkok untuk dijual di gerai Carrefour di Paris.

Bahkan, Thaksin menerapkan ukuran kinerja atau key performance indicator bagi para duta besar dari aspek ‘bisnis’, yakni seberapa besar devisa yang bisa dimasukkan bagi Bangkok, dari negara tempat mereka berdinas.

Sebagai warisan Thaksin, kini Thailand memiliki sentra ekonomi daerah yang kuat, dan hampir bisa disebut sebagai salah satu raja produk pertanian, selain keunggulan otomotifnya.

Government entrepreneurship

Sejatinya, “model bisnis” seperti Thailand tak berlebihan jika disebut sebagai intisari government entrepreneurship, didukung inovasi teknologi dan sumberdaya manusia yang kompeten.

Melegakan ketika Presiden SBY menyinggung dalam pidatonya, bahwa metodologi pendidikan di Indonesia perlu diperbarui guna mencetak orang kreatif, inovatif, untuk menjadi job creator, pencipta lapangan kerja, ketimbang job seeker atau pencari kerja.

Tetapi rasanya itu saja tidak cukup. Indonesia, dengan potensi sumber daya (manusia dan alam) yang begitu kaya, memerlukan birokrat yang berjiwa en-trepreneur, sehingga mampu menjahit kebijakan yang bernilai bisnis tinggi.

Sekadar contoh lain, kisah Singapura bisa menjadi rujukan. Perdana Menteri Lee Hsien Loong, dalam sebuah forum bisnis internasional, mengatakan secara jelas dan mantap, bahwa Singapura harus menjadi hub bagi aktivitas bisnis dunia.

Lalu PM Lee ‘menjual’ lokasi negeri itu yang diklaim strategis, yang hanya berjarak penerbangan maksimal 7 jam untuk menjangkau Sydney, Tokyo, New Delhi, Beijing, Seoul (apalagi ke Jakarta yang tak sampai 2 jam).

Pidato PM Lee itu, tentu saja, untuk meyakinkan para calon investor dan pemimpin bisnis global bahwa dengan memiliki headquarter di Singapura, jauh lebih kompetitif karena lebih mudah menjangkau kawasan bisnis lain di Asia Pasifik dengan murah.

Tentu saja plus kemudahan regulasi, kenyamanan bisnis, serta ketersediaan sumber daya manusia yang memiliki skill tinggi, termasuk hasil ‘rekrutan’ terbaik dari Indonesia melalui beasiswa dan permanent resident di negeri itu.

Penafsiran saya, PM Lee berusaha meyakinkan komunitas bisnis di dunia, “Anda tak perlu berkantor di kota-kota lain. Cukup buka kantor di Singapura, dan semuanya beres.”

Satu hal yang juga menjadi iming-iming Singapura: “Jika Anda investasi di negeri dengan tarif pajak 30%, berarti negeri itu telah mengambil diam-diam 30% saham perusahaan Anda. Singapura menawarkan tarif pajak korporasi di bawah 20%. Kami tak ingin terlalu besar menjadi pemegang saham Anda.”

Menggiurkan bukan? Hasilnya, memang harus diakui, banyak perusahaan multinasional lantas berkantor di Singapura, bukan Indonesia, yang pasarnya berkali lipat.

Dengan kata lain, Singapura lebih mengejar kebijakan ekstensifikasi, ketimbang intensifikasi, guna menggaet sebanyak mungkin perusahaan multinasional ke negeri itu, untuk kemudian merogoh kantong mereka melalui setoran pajaknya. Mungkin, “model bisnis” seperti itulah yang menjadi pilihan Singapura.

Tidak hanya itu. Hampir mirip dengan gaya Thaksin, Singapura menerapkan pola perekrutan menteri yang jelas untuk urusan luar negeri. PM Lee menunjuk menteri luar negeri yang sebelumnya telah lama berkiprah sebagai menteri perdagangan.

Ini berarti, urusan luar negeri lebih diberi bobot untuk diplomasi dagang dan diplomasi bisnis ketimbang politik. Alhasil, negeri kecil itu berjalan di “jalur yang benar”, sehingga ekspor dapat menjadi andalan, meski sebagian adalah hasil “re-ekspor” dari Indonesia.

Akan tetapi apa pun, saya begitu sepakat dengan kata-kata sangat optimistis dari Presiden SBY kemarin. “Kalau China bisa, India bisa, mengapa kita tidak bisa. Kita harus bisa!” katanya seraya melanjutkan, “Kalau Singapura, Malaysia bisa, kita juga harus bisa!” Hati saya menyambut gembira can do spirit itu. Mengapa tidak? (arief.budisusilo@bisnis.co.id)

Category: Uncategorized | No Comments »

Menakertrans: Bursa Kerja Penting

November 13th, 2009 by admin

BOGOR, KOMPAS.com – Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar mengemukakan, bursa kerja khusus di perguruan tinggi (PT) adalah salah satu solusi permasalahan ketenagakerjaan di Indonesia, khususnya berkaitan dengan penempatan tenaga kerja. “Oleh karena itu, peranan perguruan tinggi sangat diharapkan mampu menjembatani kesenjangan antara dunia kerja dan dunia pendidikan,” katanya di Bogor, Jabar, Sabtu (7/11).

Berbicara pada acara “Bursa Kerja: IPB Job Fair & IPB Entrepreneur Expo” di Institut Pertanian Bogor (IPB) International Convention Center”, Menakertrans mengatakan bursa kerja khusus di PT memiliki nilai penting dan strategis.

Nilai penting dan strategis itu, menurut Menakertrans, karena merupakan sarana atau media untuk menjembatani antara dunia pendidikan dan dunia kerja, dalam arti memberikan pelayanan kepada para mahasiswa dan alumni yang akan memasuki lapangan kerja guna memperoleh informasi pekerjaan sesuai bakat, minat, keahlian dan keterampilannya.

Di sisi lain, lanjut Muhaimin, Bursa kerja juga untuk membina kerja sama dengan dunia usaha selaku pengguna atau pemberi kerja untuk dapat memperoleh informasi sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi sesuai dengan kebutuhannya.

Manfaat lainnya adalah membantu memberi informasi untuk pengembangan dan penyempurnaan program pendidikan sesuai dengan tuntutan dunia kerja. Selain itu, membantu memberi informasi kepada tenaga pengajar dalam meningkatkan kompetensi dan profesionalisme, sehingga dapat mempersiapkan alumni guna memasuki dunia kerja.

Yang tidak kalah pentingnya, kata Menakertrans, yakni membantu pemerintah dalam menanggulangi pengangguran melalui perluasan kerja, yang pada gilirannya meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan bangsa. “Dengan kata lain, bursa kerja khusus di perguruan tinggi adalah sebagai sarana mempertemukan pencari kerja dengan penyedia pekerjaan,” katanya.  

Category: Uncategorized | No Comments »

National Summit Telurkan Standar Pendidikan

November 13th, 2009 by admin

VIVAnews – Forum National Summit hari kedua menelurkan rekomendasi untuk membentuk standar pendidikan nasional.

Direktur
Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas Fasli Djalal sebagai fasilitator
dalam acara tersebut menuturkan, perlu adanya standar pendidikan dengan
pengaturan pembiayaan yang memadai sebagai bagian dari anggaran
pendidikan 20 persen.

“Standar tersebut harus berdasar pada
semangat tujuan pendidikan untuk membangun akhlak, karakter, sekaligus
membangun kreatifitas, dan daya inovasi yang berkeadilan tanpa bentuk
diskriminasi,” kata Fasli di sela National Summit hari kedua di Ritz
Carlton Jakarta, Jumat, 30 Oktober 2009.

Dalam forum tersebut
juga direkomendasikan agar pemerintah terus melakukan reformasi
pendidikan baik untuk kesejahteraan guru dan pendidikan guru, agar para
guru mau berkarya di mana pun wilayah kerja.

“Diharapkan dengan reformasi guru, bisa menghasilkan lulusan yang berjiwa entrepreneur,” ujarnya.

Selain
itu, perguruan tinggi diharapkan akan menjadi pilar pendidikan bangsa
yang responsif pada kebutuhan dunia usaha dan siap menghadapi
pertarungan tingkat dunia.

vivanews.com

Category: Uncategorized | No Comments »

Ciputra: Saatnya Pemuda Indonesia jadi Usahawan

November 13th, 2009 by admin

JAKARTA, KOMPAS.com - 81 tahun lalu, pemuda Indonesia menjadi pelopor dalam kebangkitan bangsa dalam bidang politik. Sekarang, dalam peringatan Sumpah Pemuda diharapkan menjadi pelopor dalam usaha membangun bangsa yang sejahtera dengan menjadi wirausahawan (entrepreneur). “Menjadi perombak menuju bangsa yang sejahtera, bukan merdeka, karena kita sudah merdeka. Caranya adalah menciptakan peluang kerja bukan mencari kerja,” kata Ciputra, tokoh wirausahawan Indonesia di Jakarta, Rabu (28/10).

Menurutnya berdasarkan data Februari 2008 ada 1,1 juta pengangguran lulusan perguruan tinggi. Jumlah ini terus naik, karena menciptakan sarjana mudah, tapi untuk menciptakan sarjana yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan adalah kerja yang tidak sederhana. “Ada penelitian yang mengatakan 3 dari 10 tukang ojek adalah sarjana,” ungkap Ciputra.

Lebih lanjut, ia menuturkan, ada 2 alasan mengapa generasi muda sekarang sulit menjadi usahawan. Pertama, karena kita telah dijajah selama 350 tahun. Selama masa itu kita tidak diberi kesempatan untuk menjadi usahawan, kecuali orang Tiongkok dan India. Kedua, pendidikan kita mengarahkan peserta didik untuk menjadi pekerja bukan untuk menciptakan lapangan pekerjaan. “Minimal 2 persen penduduk menjadi entrepreneur. Tapi Indonesia baru 0,18 persen atau 400.000 orang yang seharusnya 4,4 juta,” tutur Ciputra.

Untuk itu, ia berharap supaya generasi sekarang mampu memacu dirinya untuk menjadi usahawan. Sehingga mampu mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Peringatan Sumpah Pemuda menjadi saat yang tepat untuk memulainya.

Category: Uncategorized | No Comments »

Entrepreneur Menjamin Masa Depan Atlet di Hari Tua

November 13th, 2009 by admin

Virus entrepreneur, ternyata, bisa ditularkan kepada siapa saja, termasuk para atlet terkenal. Setelah mantan pebulu tangkis andalan Susi Susanti dan Alan Budikusuma, kini petinju Chris John pun merasa tertarik dengan ilmu yang ditularkan Ir Ciputra itu.

YERI VLORIDA, Jakarta

PETINJU kebanggaan Indonesia, Chris John, bersemangat ketika mengisahkan rasa tertariknya bertemu dengan pengusaha properti Ir Ciputra. Pertemuan yang berlangsung di kompleks Permata Sektor 9 Bintaro, Jakarta, pada Rabu (14/10) itu berlangsung bersamaan dengan sejumlah atlet bulu tangkis nasional yang sudah malang melintang di pentas bulu tangkis dunia.

Chris John lantas bercerita. Lima hari lalu, dia kaget ketika mendapat telepon dari Pak Ci, panggilan karib Ir Ciputra. Ketika itu, Pak Ci mengajaknya bergabung dalam pelatihan entrepreneurs yang akan berlangsung mulai 3 November. Pelatihan tersebut dilakukan Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC) selama tiga bulan. Program itu akan diikuti peserta lainnya dari berbagai kelompok profesi untuk lebih banyak mendalami dunia entrepreneurs. “Wah, kaget juga. Saya tidak mengira itu telepon Pak Ci,” ucap petinju kelahiran Banjarnegara, Jateng, tersebut.

Setelah mendapatkan penjelasan panjang lebar dari Pak Ci tentang manfaat pelatihan entrepreneurs itu, Chris John mengatakan tertarik. Dia berjanji mengikuti pelatihan itu bersama istrinya, Ana Maria Megawati. Setidaknya, pelatihan tersebut akan menjadi tambahan bekal buatnya untuk menjadi pengusaha. “Jika semua atlet mendapat kesempatan seperti itu, kami sangat berterima kasih. Pak Ci sudah memikirkan dengan cermat nasib para atlet dan menyediakan bekal buat hari tua nanti,” ucap petinju yang juga mantan pewushu itu.

Selain sibuk menjadi atlet, lanjut Chris John, saat ini dia sedang merintis usaha kecil-kecilan bersama istrinya, yakni bisnis wartel dan kos-kosan di Kudus, Jawa Tengah.

Bisnis itu dijalankan istrinya secara otodidak. Artinya, roda bisnis kecil-kecilan Chris John tersebut menggelinding begitu saja tanpa mendapatkan arahan atau pengetahuan. Semua itu dilakukan bersama istri dengan pengalaman otodidak tanpa bekal entrepreneurs.

“Ketika sedang berjaya, seorang atlet boleh berbangga karena dia mendapatkan penghasilan. Namun, realitas itu harus disikapi dengan matang untuk masa tua ketika sudah pensiun. Sudah banyak contoh atlet berprestasi dari berbagai bidang harus berjuang mempertahankan hidup setelah berhenti menjadi atlet,” paparnya.

Setelah mengikuti pelatihan, Chris John yakin wawasannya akan terbuka. Dia juga senang karena bisa berkonsultasi langsung dengan pelaku entrepreneurs. Keyakinan itu muncul karena dia tahu persis kemampuan Pak Ci. Begawan properti Indonesia tersebut sudah teruji kehebatannya di bidang entrepreneurs. Kehebatannya itu ditunjukkan lewat berbagai jenis usaha yang berkembang pesat hingga ke mancanegara, terutama sektor properti.

Antusiasme Chris John tersebut membuat Pak Ci mengacungkan jempol. Karena itu, menurut Pak Ci, selama mengikuti pelatihan, Chris John dan istri tidak perlu mengeluarkan biaya. Upaya tersebut dilakukan sebagai bentuk penghargaan kepada atlet yang sudah membawa harum nama bangsa Indonesia di pentas tinju dunia.

“Meskipun hanya di bidang olahraga, mereka ini pahlawan. Jadi, eksistensi mereka layak dihargai. Penghargaan itu tidak melulu hanya bonus, melainkan juga ilmu dan pengetahuan tentang entrepreneurs. Setelah pensiun, mereka akan menekuni usaha untuk menopang kehidupan keluarga,” beber Pak Ci.

Pak Ci mengatakan, para atlet sudah berjuang ekstrakeras untuk mengharumkan bangsa. Mereka rela bercucuran keringat dan meninggalkan kenikmatan hidup seperti manusia pada umumnya. Nyaris selama 24 jam setiap hari, para atlet berlatih diri dan mengasah kemampuan. Harapannya tentu saja untuk meraih juara di ajang pertandingan dunia. “Karena itu, selayaknya Yayasan Jaya Raya yang menaungi PB Jaya Raya menghargai jerih payah mereka dengan menyiapkan masa depan atlet dengan pendidikan wirausaha,” tegasnya.

Pak Ci lantas menunjuk figur pasangan suami istri Susi Susanti dan Alan Budikusuma yang menjadi pasangan peraih emas pertama Indonesia di arena Olimpiade Barcelona Spanyol pada 1992. Setelah berhenti jadi atlet, pasutri itu memilih jalur bisnis. Kini, bisnis mereka tergolong sukses.

Menurut Pak Ci, entrepreneurs kini menjadi kunci untuk keluar dari kabut kemiskinan. Tidak hanya atlet, kini sarjana saja sulit mencari pekerjaan. “Saya belum pernah menggunakan ijazah sarjana untuk mencari lowongan. Sebab, semasa kuliah di ITB bersama rekan kuliah, kami sudah mendirikan konsultan. Jasa konsultasi itu akhirnya terus berkembang seperti sekarang,” ucapnya.

Dia menjelaskan, atlet memiliki keterampilan khusus. Namun, keterampilan khusus tersebut tidak cukup menjamin hidup baik di hari tua nanti. Karena itu, terampil menciptakan peluang kerja dapat dilakukan dengan mendirikan wiruasaha. “Pasangan Susi dan Alan, Rudy Hartono serta banyak atlet lainnya telah membuktikannya. Mereka sukses di atlet, sukses pula di bisnis. Jadi, semangat wirausaha harus ditanamkan kepada Chris dan atlet muda lainnya,” papar Pak Ci.

Ciputra berharap, para pengusaha yang membina para atlet nasional dari berbagai cabang olahraga juga dapat memotivasi para atletnya mengikuti pendidikan wirausaha dan menjadi pengusaha di bidang-bidang yang diminati.

Hebatnya lagi, Pak Ci juga memberikan hadiah rumah kepada atlet berprestasi di tingkat dunia. Atlet itu adalah pasangan Markis Kido dan Hendra Setiawan, peraih medali emas di Olimpiade Beijing 2008. Saat penyerahan kunci rumah tipe 70 seluas 169 m itu, hadir atlet senior seperti Rudi Hartono dan Icuk Sugiarto. Nah, Markis Kido dan Hendra Setiawan juga mendapatkan tawaran dari Pak Ci untuk mengikuti pelatihan entrepreneurs.

Selain itu, menurut Rudy Hartono, pendidikan wirausaha dapat menghindari si atlet terjebak dalam realitas trial dan error. Supaya usahanya berkembang, mereka harus memanfaatkan modal yang ada dengan optimal. (*/don kardono)

jawapos.com

Category: Uncategorized | No Comments »

Jadilah Entrepreneur Berpandangan Positif

November 13th, 2009 by admin

JAKARTA (Suara Karya): Entrepreneur yang mempunyai nilai luhur dengan pandangan positif akan membawa manfaat bagi masyarakat. Kembangkanlah karakter tidak kenal menyerah karena sebuah prakarsa tanpa disertai karakter tak kenal menyerah akan mati suri.
Demikian dinyatakan Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono saat membuka “Pelatihan Pengembangan Entrepreneur Pemuda”, yang diselenggarakan Yayasan Damandiri dan Haryono Center, di Jakarta, akhir pekan lalu.
Berpandangan positif dan berprakarsa unggul merupakan dasar untuk melihat sesuatu yang bermanfaat di sekitar kita. Dengan demikian, begitu melihat sesuatu yang mungkin tidak dilihat orang lain, langsung bisa menarik manfaat yang bisa dihasilkan. “Hal ini memang perlu dilatih,” ujarnya.
Namun, begitu telah terbiasa, maka bisa memunculkan inovasi-inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat di lingkungannya. Kepada para peserta pelatihan, mantan Menko Kesra dan Taskin itu mengingatkan, para calon entrepreneur harus mampu melihat secara positif, berjalan secara positif, dan inovatif.
Pasalnya, hanya memiliki prakarsa belum tentu membawa hasil instan yang gegap gempita. Diingatkannya, tingkat kematian atau kebangkrutan suatu usaha awal amatlah tinggi. Karena itu, suatu prakarsa sekecil apa pun harus disertai tekad pantang mundur. Dan, agar tidak mati dalam persaingan, seorang entrepreneur harus memiliki sifat menganggap semua yang ada di sekitar adalah sahabat. Dengan begitu, apa yang diciptakan dan dibuat bisa membawa keuntungan baik secara materiil maupun moril.
Sesungguhnya, menurut dia, jiwa entrepreneur itu ada di masing-masing orang. Tinggal bagaimana hal itu digali dan dikembangkan. “Kalau gagal dalam mengembangkan jiwa entrepreneur, jangan khawatir. Kegagalan tidak selamanya akan terjadi dalam diri manusia. Kegagalan hanya sebuah cara atau upaya agar kita menjadi lebih maju,” tuturnya.
Karakter-karakter dasar macam itu, menurut Haryono, agar diajarkan kepada para pemuda yang menjadi peserta pelatihan tersebut. Tujuannya supaya para calon entrepreneur itu tahan uji dan tidak mudah menyerah. Karakter itu harus mampu menyertai setiap individu para peserta, agar sanggup bekerja keras dan percaya diri.
Sesungguhnya, sifat-sifat dasar entrepreneur cenderung untuk bekerja sendiri. Namun, karakter yang harus dikembangkan dalam dunia usaha harusnya sifat entrepreneur sosial, yaitu entrepreneur yang kemahiran dan penemuannya dijadikan sebesar-besarnya untuk kemakmuran bersama. Untuk itu, perlu suatu sikap bijaksana untuk melihat orang-orang yang bisa diajak bekerja sama, membangun usaha yang menguntungkan untuk banyak orang. “Yang kita bangun dari pelatihan ini adalah suatu entrepreneur yang sejak awal mempunyai kepedulian terhadap sesamanya,” kata Haryono. (Budi Seno)
suarakarya-online.com

Category: Uncategorized | No Comments »