Pengusaha Warkop, Sahar Daeng Sija
November 13th, 2009 by admin
“Hidup Butuh Perjuangan” Pepatah itulah yang harus dipegang setiap insan manusia untuk menjalani kehidupan yang penuh liku dan tantangan.
Berserah diri pada takdir dan nasib, bukanlah jalan terbaik untuk keluar dari permasalahan ekonomi yang saat ini mendera. Peluang usaha cukup terbuka lebar, tinggal bagaimana setiap insan manusia berjuang untuk menggapai hari esok yang cerah.
Rupanya, pegangan hidup itulah yang dipegang Sahar Daeng Sija, pria kelahiran Maros 1960 lalu, yang saat ini telah boleh dikatakan sebagai entrepreneur sukses, yang berasal dari keluarga ekonomi lemah disebuah desa terpencil. Tidak banyak yang tahu, kalau Sahar Daeng Sija, yang akrab disapa Daeng Sija, dulu bukanlah siapa-siapa, dia hanyalah anak dari seorang masyarakat biasa.
Sewaktu dirinya masih duduk dibangku Sekolah Dasar (SD) kelas V, dia telah ditinggal sang ayah tercinta. Saat ini, krisis ekonomi keluarganya semakin menjadi, maklum saat itu, ayahnyalah yang menjadi penopang ekonomi keluarga. Untuk bertahan hidup, dia bersama kaka dan ibunya tercinya, Hj Daeng Tarring, hijrah ke Makassar dan menumpang hidup disalah satu rumah keluarganya, Jalan Satando, Kecamatan Ujung Tanah Makassar.
Di Makassar, ibunya mencoba peruntungan dengan menjual jalangkote dan kue tradisional. Daeng Sija-lah yang tampil sebagai pahlawan dalam keluarganya. Daeng Sija, selalu menyempatkan waktu dalam setiap hari untuk menjajakan jalangkote dan kue buatan ibunya tercinta, dari lorong-ke lorong, tanpa mengenal rasa malu, tanpa mengenal teriknya panas mentari dan dinginnya hujan.
Waktu terus berjalan, Daeng Sija semakin bingung menentukan pilihan hidup. Untuk merubah nasib menjadi lebih baik, juga terasa sangat sulit baginya, modal untuk berusaha tak dia miliki, namun keyakinan, kesabaran dan keuletannya-lah yang membuat suami tercinta Rosmiati, perempuan kelahiran Jeneponto ini, terus bersemangat mencari akal dan peluang untuk merubah status keluarganya dari tidak ada menjadi ada.
Barulah pada tahun 1980, dia diajak bekerja disalah satu usaha warkop, dia bekerja dengan giat, sehingga dia dipercaya sebagai peracik kopi. Pada tahun 2003, dia akhirnya di panggil oleh salah satu pengusaha warkop yang berlokasi di Jalan Boulevard, dengan iming-iming gaji Rp1 Juta per bulan. “Saat itulah saya menerima tawaran, karena saya berniat mendirikan warkop sendiri, seluruh gaji saya tabung kala itu, untuk dijadikan modal,” katanya kepada Upeks.
Pada tahun 2005, impian Daeng Sija untuk membuka usaha sendiri tercapai. Lambat-laun, usaha warkop yang digelutinya kian tenar, karena racikan kopi dan tehnya yang khas. Bahkan hingga saat ini, Warkop Daeng Sija, telah menjadi trend di Kota Makassar bahkan hingga ke daerah-daerah di Sulsel.
Pada tahun 2007, Daeng Sija, kembali membuka cabang usaha warkop di sekitar Topaz dengan nama Warkop Daeng Sija, dan dikediamannya sendiri, yang dibeli dari hasil usaha, yang di Jalan Lobak Makassar. Pada tahun 2009, Jalan Lanto Daeng Pasewang, menjadi pangsa pasar bisnis warkopnya. “Saya rencana juga akan membuka usaha Warkop di Jalan Batu Putih Bundar, karena permintaan langganan,” jelasnya.
Dia juga mengaku, hingga saat ini ada beberapa warkop yang mengambil bahan dari dirinya, untuk mendapatkan hasil racikan kopi yang terbaik, Daeng Sija
juga mengaku banyak pengusaha yang memesan kopi hasil buatannya untuk para tamu dan relasi bisnis. “Semua saya jalani dengan niat yang tulus, dari hasil usaha saya, saya sudah bisa beli rumah dan menyekolakan anak di perguruan tinggi, saya yakin walaupun banyak warkop buka, tapi hasil racikan kopi dari saya bisa diuji tetap yang terbaik,” tutur Daeng Sija yang dikenal dengan kumis tebalnya ini. (lim/ade/E)
ujungpandangekspress.com

Category: Uncategorized | No Comments »







